Breaking News

Drone Pertanian di Indonesia 2026: Revolusi Semprot yang Pangkas Biaya hingga 90 Persen

Dari Cangkul ke Pesawat Nirawak

Bayangkan seorang petani di Merauke, Papua Selatan, yang dulu membutuhkan empat jam dan biaya Rp170.000 untuk menyemprot pestisida di satu hektare lahan. Kini, dengan drone pertanian, pekerjaan yang sama selesai dalam 20 menit dengan biaya hanya Rp17.000. Itulah kenyataan yang tengah berlangsung di sejumlah daerah di Indonesia pada 2026. Kementerian Transmigrasi mencatat pemanfaatan drone di Kawasan Transmigrasi Salor mampu memangkas biaya penyemprotan hingga 90 persen.

Kapasitas dan Kemampuan Drone Pertanian Terkini

Drone pertanian yang digunakan di Indonesia saat ini memiliki kapasitas angkut yang bervariasi. Di Bantul, dua unit drone bantuan Menteri Pertanian masing-masing mampu mengangkut 16 liter atau 16 kilogram pupuk dan pestisida. Sementara itu, di Sanggau, Kalimantan Barat, drone dengan kapasitas 20 kilogram cairan digunakan untuk pemupukan dan penyemprotan, bahkan mampu memproses satu hektare lahan hanya dalam 15 menit. Di Situbondo, drone pertanian yang difasilitasi pemerintah daerah memiliki kapasitas hingga 40 liter.

Efisiensi Waktu dan Tenaga Kerja

Ketua Tim Ekspedisi Patriot IPB University, Doni Sahat, menjelaskan bahwa penggunaan drone membuat pekerjaan penyemprotan sekitar 12 kali lebih cepat dibandingkan metode manual. Pada lahan seluas empat hektare, penghematan biaya penyemprotan dapat mencapai sekitar Rp612.000 untuk satu kali kegiatan.

Dampak Nyata bagi Petani: Kisah dari Lapangan

Margono, petani padi di Satuan Permukiman 4, Distrik Tanah Miring, Merauke, mengelola lahan sekitar empat hektare. Awalnya ia ragu ketika ditawari pemupukan menggunakan drone. “Setelah dicoba di lahan saya, perbedaannya langsung terasa. Biasanya pemupukan manual membutuhkan waktu seharian dan tenaga yang cukup besar,” ujarnya. Kini, ia merasakan manfaat nyata berupa percepatan proses pemupukan, penghematan waktu, dan penyebaran pupuk yang lebih merata.

Produksi Drone dalam Negeri dan Kolaborasi Riset

Universitas Hasanuddin (Unhas) dipercaya Kementerian Pertanian untuk memproduksi drone pertanian senilai Rp11 miliar. Kolaborasi ini mencakup pengembangan drone untuk penyemprotan presisi serta penaburan benih, dengan target menembus pasar internasional. Langkah ini menandai pergeseran dari sekadar pengguna teknologi menjadi produsen, sekaligus membuka lapangan kerja baru di sektor teknologi pertanian.